Home Tumbuh Kembang Anak Bunda, Sikapi Temper Tantrum Pada Si Kecil Dengan Bijak Yuk !

Bunda, Sikapi Temper Tantrum Pada Si Kecil Dengan Bijak Yuk !

2017-02-08 23:10:45 Bunda, Sikapi Temper Tantrum Pada Si Kecil Dengan Bijak Yuk !

Dear Bunda, pernahkah si kecil tiba-tiba menangis, berteriak-teriak, marah, berbaring di lantai, sampai memukul-mukul Bunda atau menendang benda di sampingnya? Jika pernah, maka berarti si kecil sedang mengalami temper tantrum. Temper Tantrum merupakan sebuah letupan emosi di saat Si Kecil menunjukkan kemandirian dengan sikap negatifnya. Pada umumnya temper tantrum dialami oleh anak balita, terutama terjadi antara usia 2 hingga 4 tahun. Anak balita merasa lepas kendali, dirinya sedang kacau, bingung, dan berantakan karena ada keinginannya yang tidak terpenuhi.

3 Jenis Temper Tantrum

  1. Usia dibawah 3 tahun yang sering diekspresikan dengan menangis, memukul, menjerit, menendang bahkan dalam kasus yang parah adalah membentur bentur kepalanya ke tembok.
  2. Usia 3-4 tahun dengan ekspresi kemarahan yang diungkapkan dengan membanting, merengek, mengkritik bahkan sampai menghentak-hentakan kaki.
  3. Usia 5 tahun ke atas dengan mengkritik diri sendiri, memukul bahkan yang lebih parah merusak benda benda yang ada disekitarnya.


Apa Saja sih penyebab Si Kecil Mengalami Temper Tantrum?

  1. Tantrum biasanya muncul saat terjadi situasi yang secara emosi mengecewakan, misalnya saat Si Kecil gagal mendapat apa yang ia inginkan atau saat permintaan Si Kecil ditolak oleh Bunda dan Ayah.
  2. Ketidakmampuan Si Kecil mengungkapkan keinginan atau perasaan. Si Kecil punya keterbatasan bahasa, ada saatnya ia ingin mengungkapkan sesuatu tapi tidak bisa, dan orangtua pun tidak bisa mengerti apa yang diinginkan. Kondisi ini dapat memicu Si Kecil menjadi frustrasi dan terungkap dalam bentuk tantrum.
  3. Pola asuh orangtua. Cara  orang tua mengasuh Si Kecil berperan untuk menyebabkan tantrum. Anak terlalu dimanjakan dan selalu mendapatkan apa yang diinginkan, bisa saja mengalami tantrum ketika permintaannya  ditolak. Anak  yang  terlalu didominasi dan dilindungi oleh orang  tuanya, suatu saat bisa saja menentang  dominasi orang tua dengan perilaku tantrum. Orang  tua  diharapkan  menerapkan pengasuhan yang positif  yaitu Autoritatif sebagai jalan tengah  yang seimbang.  Pengasuhan  seperti  itu dapat menghormati  pendapat dan kebutuhan anak, tetapi orang tua tetap harus menetapkan batasan tegas yang tepat. Anak yang dibesarkan dengan cara tersebut jarang mengalami tantrum.
     

Wajarkah Anak Mengalami Tantrum?

Rasa kecewa, marah, sedih merupakan suatu rasa yang wajar dan natural. Namun kerapkali, tanpa disadari orang tua ‘menyumbat’ emosi yang si kecil rasakan. Misalnya saat si kecil menangis karena kecewa, orangtua dengan berbagai cara berusaha menghibur, mengalihkan perhatian, memarahi demi menghentikan tangisan anak. Hal ini sebenarnya membuat emosi si kecil tak tersalurkan dengan lepas. Jika hal ini berlangsung terus menerus, akibatnya timbul yang disebut dengan tumpukan emosi. Tumpukan emosi tersebut yang kemudian dapat meledak tidak terkendali dan muncul sebagai temper tantrum.

 

Bagaimana ya Cara Mengatasi Anak Tantrum?

Langkah yang dapat Bunda ambil saat tantrum terjadi adalah :

  1. Pegang si kecil erat-erat (tangan dan kaki) hingga dia tak dapat memukul atau menendang dan melakukan hal berbahaya lain.
  2. Jangan ajak si kecil berkomunikasi hingga ia selesai dengan usahanya untuk memberontak (hal ini termasuk jangan berteriak untuk menyuruh si kecil berhenti).
  3. Dalam waktu 15-20 menit maka rata-rata anak akan merasa letih dan berangsur tenang. Saat itulah si kecil dapat diajak berbicara.
  4. Jelaskan mengapa kita memegangnya erat-erat dan mengapa kita tidak memenuhi permintaannya.
  5. Ajarkan si kecil bagaimana lain kali ia dapat menunjukkan kemarahannya.

 

Nah, demikianlah sedikit ilmu yang dapat kami bagikan. Semoga Bunda bisa terus sabar dan semangat dalam mendampingi tumbuh kembang Si Kecil, khususnya di masa-masa ia sering mengalami temper tantrum.

 

Sumber :

http://mommiesdaily.com

http://bidanku.com

journal.unusa.ac.id

Tags:

Artikel Terkait