Home Tumbuh Kembang Anak Melatih Kecerdasan Emosional Anak

Melatih Kecerdasan Emosional Anak

2017-02-07 02:38:49 Melatih Kecerdasan Emosional Anak

Kecerdasan anak memang selalu menjadi isu yang selalu Bunda perhatikan. Tentu saja, hal ini karena tidak ada Bunda yang tidak ingin anaknya tumbuh menjadi generasi yang cerdas. Namun, kecerdasan anak bukan sekedar kognitifnya saja Bunda. Namun ada pula kecerdasan emosional yang bisa memberikan pengaruh yang besar bagi kehidupannya.

Namun, kenyataannya, melatih emosional anak ini tidak mudah. Bahkan mungkin lebih mudah mengajarkannya matematika dan bahasa Inggris dari pada melatih kecerdasan emosionalnya. Kenapa demikian? Karena hati dan perasaan oragtua akan terlibat di dalamnya. Dan akhirnya, banyak orangtua yang merasa tidak sanggup dan menyerah. Ada banyak kasus yang sering terjadi, yang jika kita sukses, kita bisa melatih kecerdasan emosional anak.

Contohnya:

Bagi Bunda, melihat anak “tidak bahagia” adalah hal yang sangat sulit. Karena sering kali anak-anak kita menangis dan sedih karena banyak hal, kadang malah merupakan hal yang sepele, seperti balon yang meletus, berebut mainan dengan teman, dan berbagai penyebab lainnya. Ketika hal ini terjadi, kebanyakan, dan hampir seluruh orang selalu ingin dengan cepat menenangkan anak. Agar ia tidak sedih lagi, tidak menangis, dan tidak bermuram durja. Ada Bunda yang segera menghampiri anak, dan memberikan apa yang ia mau asalkan ia tidak sedih lagi.

Dr. Susan David, dalam psychologicalscience.org mengatakan bahwa  yang dilakukan Bunda untuk cepat menenangkan anak ini ternyata salah. Beliau berpendapat bahwa membantu anak untuk merasa bahagia kembali bisa membantu anak untuk tenang dalam waktu singkat. Namun, utuk kedepannya, hal ini tidak akan membantu anak untuk mendapatkan kecerdasan emosional dimana ia bisa mengendalikan dan menguasai emosinya sendiri.

Perlu diingat bahwa bagaimana cara anak mengendalikan  emosinya adalah hal yang sangat krusial untuk pembentukan emosionalnya yang stabil di masa yang akan datang. Anak perlu merasakan sendiri bagaimana pengalaman emosi yang negatif, seperti rasa marah, kecewa, kehilangan, terluka, dan juga kesedihan.

Dr. David, menyatakan bahwa ada beberapa hal yang bisa Bunda lakukan untuk membantu anak melewati fase ini, yakni: feel it, show it, label it, dan watch it go.

Feel it

Ketika anak mulai merasakan emosi yang negatif, banyak orangtua yang ingin sesegera mungkin menghilangakn perasaan tersebut. Orangtua sering mengatakan pada anak, jangan sedih, jangan marah jangan iri, dan “jangan” lainnya.

Banyak Bunda yang tidak tega melihatnya. Namun sebaliknya, Bunda harus membiarkan anak untuk merasakan sendiri emosi yang beragam pada anak, baik positif atau negative.

 

Show it

Banyak keluarga yang mempunyai aturan tersendiri. Ada emosi yang mereka ingin untuk tidak diungkapkan seperti rasa marah dan sedih. Kita sering mendengar istilah, bahwa anak laki-laki tidak boleh menangis, “boys don’t cry” dan ungkapan lainnya. Mereka mengajarkan hal ini dengan tujuan yang baik namun sebenarnya, kita mengajari anak untuk merasa takut pada emosionalnya sendiri.

 

Label it

Sebagai orangtua, sebaiknya bisa membedakan perasaan dan emosi anak, apakah ia merasa marah atau sedih, apakah ia gelisah atau takut. Mengenali emosi anak ini bisa membantu kita untuk turut berempati terhadap anak. Jika anak susah mengatakan perasannya, maka perhatikan wajah dan eskpresi anak, karena ekspresi mereka menyatakan perasaannya.

Nah, baru ketika anak sudah beranjak besar, ia bisa mengatakan kepada kita tentang kondisi emosional mereka. Hingga tidak perlu menerjemahkan sikap mereka untuk mengetahui apa yang mereka rasakan.

 

Watch it go

Bunda, ingat ya, rasa marah atau sedih itu hanya sementara, tidak akan berlangsung selamanya kok. Apapun emosi yang dirasakan anak, mereka semua memiliki arti tersendiri, baik itu perasaan marah, sedih, takut, dan juga kecewa. Perasaan itu bisa saja mampir ke hati anak. Tapi tenang saja, seiring berjalannya waktu, perasaan macam itu juga akan hilang dengan cepat.

Kita bisa mengatakan pada anak, “inilah yang namanya sedih, jadi kita tidak boleh jahat ke orang lain karena ia bisa merasa sedih seperti yang kita rasakan”.

“Inilah rasanya kecewa kalau dibohongi. Jadi jangan membohongi orang”

“Inilah rasanya marah, makanya jangan menyakiti orang lain. Karena mereka bisa marah juga.”

Setiap emosi dan perasaan yang anak rasakan akan memberikannya pengalaman tersendiri.

 

Sumber:

http://www.psychologicalscience.org. “Teaching Your Child Emotional Agility”. ASSOCIATION FOR PSYCHOLOGICAL SCIENCE. Diakses pada 3 Februari 2017.

https://www.nytimes.com. “Teaching Your Child Agility”. Diakses pada 3 Februari 2017.

Tags:

Artikel Terkait