Home Tumbuh Kembang Anak Mendeteksi Gangguan Pertumbuhan Balita Sejak Dini

Mendeteksi Gangguan Pertumbuhan Balita Sejak Dini

2017-03-07 04:50:06 Mendeteksi Gangguan Pertumbuhan Balita Sejak Dini

Sebagai Bunda, memperhatikan tumbuh kembang Si Kecil sangatlah penting. Hal ini dikarenakan, Si Kecil pada usia 3 tahun pertama kehidupannya memiliki periode tumbuh kembang yang amat cepat. Pertumbuhan ini disebut juga dengan periode emas/ critical period.

Jadi, sebagai Bunda yang cermat, haruslah memperhatikan tumbuh kembang Si Kecil, apakah ia tumbuh dan berkembang dengan optimal ataukah ia mengalami gangguan pada masa ini. Jika memang ada, bisa jadi gangguan itu sifatnya menetap. Karena itulah Bunda, deteksi dini tumbuh kembang Si Kecil sangat krusial sekali.

Beberapa gangguan tumbuh kembang ini bisa berupa:

  • Terlambat bicara
  • Sulit menguyah dan menelan makanan
  • Sulit memusatkan perhatian dan konsentrasi hingga membuatnya sulit belajar
  • Hiperaktif
  • Adanya gangguan pada pendengaran dan atau penglihatan
  • Gangguan pada sistem koordinasi dan keseimbangan geraknya
  • Gangguan emosional
  • Adanya cerebral palsy, autis, down syndrome, dan atau gangguan perkembangan lainnya yang bisa terjadi pada anak usia dini.

Lalu, bagaimana Bunda bisa mendeteksi gangguan tumbuh kembang Si Kecil pada usia dininya?

Beberapa yang bisa dilakukan  untuk mendeteksi gangguan ini ialah dengan anamnesis, pemeriksaan fisik rutin, dan pemeriksanaan lanjutan lainnya.

Penting pula untuk memeriksa faktor resiko lingkungannya, seperti dari faktor ibu, lingkungan keluarga, lingkungan tetangga dan tempat tinggal, budaya, dan juga pelayanan pendidikan dan kesehtaan yang ia dapat.

Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang Si Kecil

Pada dasarnya, pertumbuhan ialah pertambahan ukuran fisik anak, bisa dilihat dari tinggi badan, berat badan, dan erat kaitannya dengan staus gizi dan keseimbanagna cairan.

Sementara perkembangan ialah bertambahnya fungsi individu antara lain yakni kemampuan pada fungsi gerak kasar dan halus Si Kecil, pendengaran, penglihatan, komunikasi, kemampuan bicara, emosi-sosial, dan kemandirian serta intelegensi Si Kecil. Pada hal ini, perkembangan moral juga masuk ke dalamnya.

Lalu, apa saja faktor penentu gangguan yang terjadi pada tumbuh dan kembang  Si Kecil tersebut?

  • Adanya  faktor genetik

Faktor genetik adalah hal pertama yang perlu diperhatikan. Adakah riwayat keluarga yang memiliki keluhan atau gangguan  tumbuh kembang yang sama.

  • Faktor lingkungan

Faktor ini meliputi banyak hal, yang bisa mempengaruhi tumbuh kembang Si Kecil, seperti kebutuhan dasar anak, yang meliputi: kebutuhan akan nutrisi, imunisasi, hygiene, pakaian, pengobatan, pakaian, tempat tinggal, sanitasi dan lain-lainnya.

Lingkungan ini juga berperan pada pemenuhan kebutuhan psikososial anak, berupa: kasih sayang, penghargaan, stimulasi bicara, gerak, sosial, moral, intelegensi, dan juga komunikasi.

Ada hal-hal di luar lingkungan rumah yang bisa mempengaruhi ada tidaknya gangguan tumbuh kembang pada Si Kecil. Beberapa diantaranya yakni sanitasi lingkungan tempat tinggal, polusi, tetangga, teman bermain Si Kecil, pelayanan kesehatan, sarana pendidikan formal dan non formal, fasilitas dan sarana bermain, budaya dan adat, dan hal lain yang ada di lingkungan yang memberikan pengaruh baik langsung maupun tidak langsung pada tumbuh kembang anak.

Beberapa hal yang bisa digunakan deteksi awal gangguan tumbuh kembang Si Kecil ialah:

  • Memperhatikan bentuk kepala Si Kecil
  • Memperhatikan penampilan wajahnya
  • Mengukur tinggi badan dan proporsi tubuh Si Kecil
  • Mengamati pandangan mata, suara, dan cara Si Kecil bicara dan berjalan
  • Memperhatikan perilaku dan aktivitas serta interaksinya dengan lingkungan

Beberapa hal tersebut adalah cara mudah untuk mendeteksi apakah Si Kecil mengalami gangguan tumbuh kembang atau tidak. Jika ingin memastikan hal ini, maka segera konsultasikan  pada dokter anak.

Sumber:

www.parenting.co.id. “Deteksi Dini Gangguan Tumbuh Kembang”. Diakses pada 6 Maret 2017

Soedjatmiko. 2001. “Deteksi Dini Gangguan Tumbuh Kembang Balita”. Sari Pediatri 3 (3). 175-188.

Tags:

Artikel Terkait